Dunia Wanita

Mulai Terhitung 17 Sept 2011 - 6 hari kedepan http://www.duniawanita.org akan bs di akses dengan alamat http://www.duniawanita.us
dan untuk selanjutan artikel akan update di website baru.
---------------------
Silahkan Kunjungi Website DWI
dengan tampilan dan artikel baru :
http://www.duniawanita.us

Indonesian Female'S Forum - Dunia Wanita Indonesia


    Hasrat, Komitmen dan Keberanian

    indra
    indra
    Exc. Moderator
    Exc. Moderator

    Male A man with much hope
    Red Medals Donatur IFSer Active

    Hasrat, Komitmen dan Keberanian Titik110

    Total Post : 923
    Hasrat, Komitmen dan Keberanian Left_bar_bleue999 / 999999 / 999Hasrat, Komitmen dan Keberanian Right_bar_bleue


    Location : Jakarta
    Joint date : 2008-11-29
    hobbies : Music, Soccer

    Message
    Status: Members
    Mistake: 0

    default Hasrat, Komitmen dan Keberanian

    Post  indra on 24/05/10, 07:01 pm

    [img]http://2.bp.*********.com/_OLk_oOmotBU/Sp_ps53JCfI/AAAAAAAAAT0/xlQyy06b0QE/s400/Keberanian+Di+Ujung+Tebing+1.jpg[/img]

    Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.

    Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.

    “Aku ingin kuliah di Amerika,” tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.

    Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.

    “Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya,” tutur sang guru. “Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat.”

    Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.

    Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.

    “Maukah Anda mengirimkan namaku?” pintanya untuk didaftarkan sebagai penerima beasiswa.

    “Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga
    dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya,” ujar sang guru.

    “Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk diterima itu tipis, mungkin nihil.”

    Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang
    yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.

    Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat dari asosiasi beasiswa itu.

    “Inilah saat yang kejam. Penolakan,” pikir sang guru.

    Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima ….

    “Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi
    juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri,” tutur sang guru menutup kisahnya.

    Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship,dan dimuat di buku “Chicken Soup for the College Soul”, yang edisi Indonesianya telah diterbitkan.

    Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, MarkVictor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih
    dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa.

    Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, “Perbedaan antara
    yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang.”

    Anda memilikinya?

    Sumber: Disadur dari Chicken Soup for the College Soul by Jack Canfield, Mark
    Victor Hansen, Kimberly Kirberger, and Dan Clark

      Current date/time is 20/05/19, 01:48 am